Tampilkan postingan dengan label Agama Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 September 2011

Mengapa Nabi Isa Turun Pada Akhir Zaman?

,
Mengapa Nabi Isa Turun Pada Akhir Zaman?

Salah satu tanda akan terjadinya kiamat besar adalah turunnya Nabi Isa alayhissalam dari langit ke bumi. Sebagian orang menganggap Nabi Isa sudah wafat. Yang benar adalah beliau diangkat oleh Allah ke langit, bersama ruh dan badannya. Dengan demikian, beliau masih hidup di langit dan akan turun pada akhir zaman. Ini adalah salah satu keyakinan mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah. 

Hadits-hadits yang membicarakan turunnya Nabi Isa pada akhir zaman sangat banyak. Menurut Ibnu Katsir lebih dari 18 hadits. Mayoritas haditsnya mutawatir, karena lebih dari 25 orang sahabat meriwayatkannya, lebih dari 30 orang tabi‘in meriwayatkannya, dan lebih banyak lagi dari kalangan tabi‘ at-tabi‘in. Sehingga tidak mengherankan hadits-hadits tentang turunnya Nabi Isa disebutkan imam-imam hadits dalam kitab-kitab hadits mereka. 

Ada orang alim dari India yang mengumpulkan hadits-hadits itu dalam satu buku. Namanya Syaikh Muhammad Anwar Syah al-Kasymiri, yang menuliskannya dalam karyanya at-Tashrih bi Ma Tawatir fi Nuzul al-Masih. 

Mengapa Allah swt. menurunkan Nabi Isa pada akhir zaman? Beberapa ulama menyebutkan hikmahnya, antara lain: 

Pertama,, sebagai bentuk sanggahan terhadap orang-orang Yahudi yang menduga bahwa mereka telah membunuh Isa. Maka Allah menjelaskan kebohongan dugaan mereka, bahkan Nabi Isa sendiri yang akan membunuh orang-orang Yahudi dan gembong mereka yang bernama Dajjal. 

Kedua, sebagai bentuk sanggahan kepada orang-orang Nashrani yang telah menyifatinya dengan sifat-sifat yang tidak benar, seperti bahwa Isa adalah Tuhan dan anak Tuhan. Nabi Isa akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menolak jizyah (upeti). 

Ketiga, Nabi Isa membaca Injil yang di dalamnya ada berita tentang keistimewaan ummat Muhammad saw. Oleh karena itu, beliau berdoa kepada Allah agar menjadikannya salah satu ummat Muhammad. Allah mengabulkan doanya dengan mengangkatnya ke langit, dan pada akhir zaman akan diturunkan kembali ke bumi. Ayat yang dibaca Isa dalam Injil adalah sebagaimana yang dijelaskan al-Quran surat al-Fath ayat 29, 

‘…Demikianlah sifat-sifat mereka (ummat Muhammad) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, sehingga tunas itu membuat tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas akarnya…’ 

Imam Malik rahimahullah berkata, ‘Telah sampai informasi kepadaku bahwa ketika orang-orang Nashrani melihat sahabat-sahabat Rasul yang berhasil menguasai negeri Syam, mereka berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya mereka lebih baik dari al-Hawariyyin (para sahabat Nabi Isa)’.’ 

Bahkan, Imam adz-Dzahabi dalam karyanya Tajrid Asma’ al-Shahabah berkata, ‘Isa bin Maryam adalah seorang Nabi sekaligus sahabat Rasulullah, karena beliau pernah melihat Rasulullah pada malam Isra, lalu beliau mengucapkan salam kepada Rasulullah. Beliau adalah sahabat Rasulullah yang matinya paling akhir’. 

Keempat, turunnya Nabi Isa ke bumi adalah menandakan bahwa ajalnya sudah dekat dan akan dikuburkan di bumi, karena makhluk yang tercipta dari tanah akan kembali ke tanah. 

Kelima, sebagai bentuk penghormatan bahwa Rasulullah lebih mulia dibanding dirinya. Bahkan Nabi Isa pernah berkata kepada para ummatnya bahwa akan datang seorang Rasul sesudahnya. Dalam al-Quran, perkataan Nabi Isa itu terdapat dalam surat as-Shaff ayat 6, 

‘Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata, ‘Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)…’ 

Lalu, ketika Nabi Isa turun ke bumi, apakah beliau membawa agama baru? Jawabnya: beliau turun tidak membawa agama baru, karena Islam adalah agama paling akhir dan tidak ada Nabi setelah Muhammad saw. Nabi Isa turun untuk menjadi pengikut umat Muhammad saw, menjadi hakim (pemimpin) yang adil, menghancurkan salib, membunuh babi, menolak jizyah (upeti), dan meluruskan umat untuk kembali kepada ajaran-ajaran Islam.
Selengkapnya →

Rabu, 09 Maret 2011

Definisi / Pengertian dan Sifat-Sifat Nabi dan Rosul / Rasul - Pendidikan Agama Islam

,


Rasul adalah seseorang dengan jenis kelamin laki-laki yang mendapatkan wahyu dari Allah SWT dan memiliki kewajiban untuk menyebar luaskan wahyu tersebut.
Nabi adalah seseorang dengan jenis kelamin pria yang mendapat wahyu dari Allah SWT namun tidak wajib disebarkan kepada orang lain.
Nabi dan rasul dalam ajaran islam wajib kita percayai karena terdapat pada rukun iman yang ke-4. Nabi serta rosul dalam menyampaikan dan menerima wahyu dari Allah SWT selalu dijaga dari perbuatan dosa dan salah yang disebut dengan ma'shum.
Nabi dan rasul sebelum diangkat menjadi nabi memiliki ciri-ciri kenabian / nubuwwah yang disebut juga dengan irhash. Nabi Muhammad SAW sejak kecil terkenal dengan akhlak yang mulia dengan sebutan al amin.


Sifat-sifat para nabi dan rasul Allah SWT :

1. Siddiq / siddik / sidiq / sidik
Siddiq berarti benar dan perkataan dan perbuatan. Jadi mustahil jika seorang nabi dan rosul adalah seorang pembohong yang suka berbohong.
2. Amanah / Amanat
Amanah artinya terpercaya atau dapat dipercaya. Jadi mustahil jika seorang nabi dan rosul adalah seorang pengkhianat yang suka khianat.
3. Fathonah / Fathanah / Fatonah
Fathonah adalah cerdas, pandai atau pintar. Jadi mustahil jika seorang nabi dan rosul adalah seorang yang bodoh dan tidak mengerti apa-apa.
4. Tabligh / Tablik / Tablig
Tabligh adalah menyampaikan wahtu atau risalah dari Allah SWT kepada orang lain. Jadi mustahil jika seorang nabi dan rosul menyembunyikan dan merahasiakan wahyu / risalah Alaah SWT.


Selengkapnya →

Nama-Nama Wali Songo atau Sembilan Wali Penyebar Agama Islam di Pulau Jawa Indonesia

,



1. Sunan Giri / Raden Paku / Ainul Yaqien

2. Sunan Bonang / Raden Maulana Makdum Ibrahim

3. Sunan Ampel / Raden Rachmad

4. Sunan Drajat / Raden Qosim Syarifuddin

5. Sunan Muria / Raden Syaid

6. Sunan Gunung Jati / Fatahilah / Fattahillah / Syarif Hidayatullah

7. Sunan Gresik / Maulana Malik Ibrahim

8. Sunan Kudus / Raden Ja'far Sodik

9. Sunan Kalijaga / Raden Mas Syahid



Selengkapnya →

Pengertian dan Penjelasan Shalat Sunat Tahajud, Dhuha, Istikhoroh, Tasbih, Taubat, Hajat, Safar

,


Persamaan Kata :
Shalat = Salat = Sholat = Solat
Sunat = Sunah
Tahajud = Tahajjud
Dhuha = Duha
Istikharah = Istikhoroh = Istikoroh
Safar = Shafar

Pada artikel ini akan dijelaskan pengertian shalat tahajud
1. Shalat Sunat Tahajud

Shalat sunat tahajud adalah shalat yang dikerjakan pada waktu tengah malam di antara shalat isya dan Shalat shubuh setelah bangun tidur. Jumlah rokaat shalat tahajud minimal dua rokaat hingga tidak terbatas. Saat hendak kembali tidur sebaiknya membaca ayat kursi, surat al ikhlas, surat al falaq dan surat an nas.

2. Shalat Sunat Dhuha

Shalat Dhuha adalah shalat sunat yang dilakukan pada pagi hari antara pukul 07.00 hingga jam 10.00 waktu setempat. Jumlah roka'at shalat dhuha minimal dua rokaat dan maksimal dua belas roka'at dengan satu salam setiap du roka'at. Manfaat dari shalat dhuha adalah supaya dilapangkan dada dalam segala hal, terutama rejeki. Saat melakukan sholat dhuha sebaiknya membaca ayat-ayat surat al-waqi'ah, adh-dhuha, al-quraisy, asy-syamsi, al-kafirun dan al-ikhlas.

3. Shalat Sunat Istikhoroh

Shalat istikhoroh adalah shalat yang tujuannya adalah untuk mendapatkan petunjuk dari Allah SWT dalam menentukan pilihan hidup baik yang terdiri dari dua hal/perkara maupun lebih dari dua. Hasil dari petunjuk Allah SWT akan menghilangkan kebimbangan dan kekecewaan di kemudian hari. Setiap kegagalan akan memberikan pelajaran dan pengalaman yang kelak akan berguna di masa yang akan datang. Contoh kasus penentuan pilihan :
- memilih jodoh suami/istri
- memilih pekerjaan
- memutuskan suatu perkara
- memilih tempat tinggal, dan lain sebagainya
Dalam melakukan shalat istikharah sebaiknya juga melakukan, puasa sunat, sodakoh, zikir, dan amalan baik lainnya.

4. Shalat Sunat Tasbih

Shalat tasbih adalah solat yang bertujuan untuk memperbanyak memahasucikan Allah SWT. Waktu pengerjaan shalat bebas. Setiap rokaat dibarengi dengan 75 kali bacaan tasbih. Jika shalat dilakukan siang hari, jumlah rokaatnya adalah empat rokaat salam salam, sedangkan jika malam hari dengan dua salam.

5. Shalat Sunat Taubat

Shalat taubat adalah shalat dua roka'at yang dikerjakan bagi orang yang ingin bertaubat, insyaf atau menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukannya dengan bersumpah tidak akan melakukan serta mengulangi perbuatan dosanya tersebut. Sebaiknya shalat sunah taubat dibarengi dengan puasa, sodaqoh dan sholat.

6. Shalat Sunat Hajat

Shalat Hajat adalah shalat agar hajat atau cita-citanya dikabulkan oleh Allah SWT. Shalat hajat dikerjakan bersamaan dengan ikhtiar atau usaha untuk mencapai hajat atau cita-cita. Shalat sunah hajat dilakukan minimal dua rokaat dan maksimal duabelas bisa kapan sajadengan satu salam setiap dua roka'at, namun lebih baik dilakukan pada sepertiga terakhir waktu malam.

7. Shalat Sunat Safar

Shalat safar adalah solat yang dilakukan oleh orang yang sebelum bepergian atau melakukan perjalanan selama tidak bertujuan untuk maksiat seperti pergi haji, mencari ilmu, mencari kerja, berdagang, dan sebagainya. Tujuan utamanya adalah supaya mendapat keridhoan, keselamatan dan perlindungan dari Allah SWT.

Selengkapnya →

Ayat Kursi, Arti dan Manfaat/Keutamaannya dalam Huruf Latin - Agama Islam

,

Bacaan sesuai terjemahan biasa dari huruf arab ke huruf latin :

ALLAHU LAA ILAAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUMU. LAA TA'KHUDZUHUU SINATUW WA LAA NAUUM. LAHUU MAA FISSAMAAWAATI WA MAA FIL ARDHI. MAN DZAL LADZII YASFA'U 'INDAHUU ILLAA BI IDZNIHI. YA'LAMU MAA BAINA AIDIIHIM WA MAA KHALFAHUM. WA LAA YUHITHUUNA BI SYAI-IN MIN 'ILMIHII ILLAA BI MAASYAA-A. WASI'A KURSIYYUHUSSAMAAWAATI WAL ARDHA. WA LAA YA-UDHUU HIFZHUHUMAA WAHUWAL 'ALIYYUL AZHIIM.

Artinya :
Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Kekal lagi terus menerus mengurus makhlukNya, tidak mengantuk dan tidak tidur KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izinNya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang meraka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS : Al-Baqarah : 255)

Keutamaan, kegunaan, manfaat, syafaat, keajaiban, keistimewaan dari ayat kursi surat al-baqoroh ayat 255 antara lain adalah :
- Dapat mendatangkan hajat bila dibaca 100 kali pada waktu tengah malam setelah melakukan shalat sunat hajat.
- Dapat mengusir, menghilangkan dan menghindar dari gangguan jin, syetan/setan, makhluk ghoib, makhluk halus dan sebangsanya serta gannguan dari orang-orang zhalim. Bacalah ayat kursi pada setiap permulaan siang dan malam hari.
- Menyembuhkan orang gila dan kerasukan/kesurupan dengan cara membaca 11 kali pada orang gila dengan sambil ditiup-tiupkan.
- Penyembuhan segala macam penyakit dengan menulis ayat kursi pada wadah air minum seperti gelas, mangkuk, cangkir, kendi, piring, dan lain-lain.



Selengkapnya →

Pengertian Mandi dan Jenis-Jenis Mandi - Agama Islam

,

Mandi adalah meratakan air ke seluruh tubuh dengan tujuan untuk menghilangkan hadats besar.

Mandi Wajib / Mandi Junub :
1. Mandi yang dilakukan setelah bersetubuh (melakukan hubungan suami istri)
2. Setelah Haid/Menstruasi (Wanita)
3. Setelah Melahirkan/Nifas (Wanita)
4. Meninggal Dunia

Mandi Sunat/Sunah :
1. Mandi untuk Shalat jum'at
2. Mandi untuk Shalat hari raya
3. Sadar dari kehilangan kesadaran akibat pingsan, gila, dbb
4. Muallaf (baru memeluk/masuk agama islam)
5. Setelah memendikan mayit/mayat/jenazah
6. Saat hendak Ihram
7. Ketika akan Sa'i
8. Ketika hendak thawaf
9. dan lain sebagainya

Niat Mandi :
NAWAITUL GHUSLA LIROF'IL HADATSIL AKBARI FARDHOL LILLAHI TA'AALAA
Artinya :
Aku niat mandi wajib untuk menghilangkan hadats besar fardhu karena Allah SWT.


Selengkapnya →

Pengertian Wudhu/Wudu dan Tata Cara Wudhu - Agama Islam

,

Wudhu adalah mensucikan diri dari segala hadast kecil sesuai dengan aturan syariat islam.

Niat Wudhu :
NAWAITUL WUDHUU-A LIROF'IL HADATSIL ASGHORI FARDHOL LILLAHI TA'AALAA.
Artinya :
Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil karena Allah Ta'ala.

Yang dapat membatalkan wudhu anda :

a. mengeluarkan suatu zat dari qubul (kemaluan) dan dubur (anus). Misalnya buang air kecil, air besar, buang angin/kentut dan lain sebagainya.
b. kehilangan kesadaran baik karena pingsan, ayan, kesurupan, gila, mabuk, dan lain-lain.
c. Bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya tanpa tutup.
d. tidur dengan nyenyak, kecuali tidur mikro (micro sleep) sambil duduk tanpa berubah kedudukan.

Cara Berwudhu :

a. membaca bismillah
b. membasuh tangan
c. niat wudhu
d. berkumur dan membesihkan gigi (3x)
e. membasuh seluruh muka/wajah sampai rata (sela-sea janggut bila ada) (3x)
f. membasuh tangan hinnga siku merata (3x yang kanan dulu)
g. membasuh rambut bagian depan hingga rata (3x)
h. membasuh daun telinga/kuping hinnga merata (3x sebelah kanan dulu)
i. membasuh kaki hingga mata kaki sampai rata (3x kanan dahulu)
j. membaca doa setelah wudhu


Selengkapnya →

Pengertian Najis dan Cara Menghilangkan Najis - Agama Islam

,

Najis adalah sesuatu yang menjadi penghalang beribadah kepada Allah SWT yang berbentuk kotoran yang menempel pada zat, tubuh, pakaian atau benda lainnya.

Macam-macam najis :

- Binatang anjing
- Binatang babi
- minuman keras / miras yang memabukkan
- darah
- air kencing
- bangkai selain bangkai manusia, ikan dan belalang

Cara menghilangkan najis yang menempel :

1. Najis Ringan

Cukup dibasuh dengan air hingga bersih baik zat, warna, maupun baunya. Najis akibat air seni/kencing anak dibawah 2 tahun yang masih minum susu membersihkannya cukup dengan memercikkan air saja.

2. Najis Berat

Jika terkena air liur/ludah anjing maka membersihkannya harus dengan membasuh dengan air hingga 7 kali terus-menerus dengan salah satunya dengan medium tanah. Berarti 6 kali dibersihkan dengan air dan sekali dengan tanah.


Selengkapnya →

25 Nama Nabi dan Rasul yang Wajib Kita Ketahui - Agama Islam

,

 Dalam agama islam terdapat 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui dengan Nabi Muhammad SAW sebagai nabi yang terakhir untuk seluruh umat sepanjang masa, yaitu :
1. Adam AS.
2. Idris AS.
3. Nuh AS.
4. Hud AS.
5. Soleh AS.
6. Ibrahim AS.
7. Luth AS.
8. Ismail AS.
9. Ishak AS.
10. Yakub AS.
11. Yusuf AS.
12. Ayub AS.
13. Sueb AS.
14. Musa AS.
15. Harun AS.
16. Zulkifli AS.
17. Daud AS.
18. Sulaiman AS.
19. Ilyas AS.
20. Ilyasa AS.
21. Yunus AS.
22. Zakaria AS.
23. Yahya AS.
24. Isa AS.
25. Muhammad SAW.

Nabi yang mendapat julukan Ulul Azmi atau nabi/rasul yang memiliki ketabahan yang luar biasa dalam menjalankan kenabiannya :
1. Nuh AS.
2. Ibrahim AS.
3. Musa AS.
4. Isa AS.
5. Muhammad SAW.



Selengkapnya →

Kamis, 03 Maret 2011

Bahaya Syirik

,

Segala puji itu hak Allah zat yang telah mengutus rasul-Nya dengan membawa ilmu yang manfaat serta amal shalih untuk memenangkan agama-Nya atas semua agama dan cukuplah Allah sebagai saksi. Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan diri-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya. Hal ini saya ucapkan sebagai ikrar atas keesaan-Nya.
Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang mengajak manusia untuk menuju ridha-Nya dengan mengesakan-Nya.
Semoga Allah menyanjungnya, keluarganya dan semua sahabatnya serta memberi tambahan keselamatan.
Wahai orang-orang yang beriman, para hamba Allah, bertakwalah kalian kepada Allah. Siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan menjaganya dan membimbingnya untuk melakukan kebaikan dalam semua urusan baik urusan agama ataupun urusan dunia. Ketahuilah bahwa takwa adalah melakukan ketaatan kepada Allah karena beriman kepada Allah dan berharap pahala dari-Nya dan meninggalkan perbuatan maksiat karena beriman kepada Allah dan merasa takut dengan siksaan-Nya.
Menjadi kewajiban setiap muslim untuk hidup di dunia ini dalam keadaan merasa khawatir jika melakukan suatu hal atau suatu dosa yang menyebabkan Allah marah dan murka.
Perkara paling penting yang seorang hamba itu wajib merasa takut dengannya sehingga dia bersemangat untuk menjaga diri darinya dan memaksa jiwanya untuk menjauhinya adalah kemusyrikan. Memang merasa takut untuk melakukan kemusyrikan adalah sebuah tujuan agung yang wajib diwujudkan oleh setiap muslim.
Kemusyrikan adalah dosa yang paling besar, paling berbahaya, merupakan tindakan kezaliman yang paling zalim, kejahatan yang paling besar dan dosa yang tidak bakal terampuni.
Menyekutukan Allah adalah perbuatan menghancurkan rububiyyah dan melecehkan uluhiyyah Allah serta berburuk sangka dengan pencipta alam semesta.
Kemusyrikan adalah menyamakan makhluk dengan Allah yang hal ini berarti menyamakan makhluk yang tidak sempurna dan tidak punya apa-apa dengan zat yang agung serta kaya raya.
Kemusyrikan adalah sebuah dosa yang rasa takut kita dengannya harus lebih besar dibandingkan rasa takut kita dengan hal selainnya.
Terdapat banyak dalil dalam al Qur’an dan sunah yang jika direnungkan dan ditelaah oleh seorang hamba akan menyebabkan timbulnya rasa takut di dalam hati terhadap kemusyrikan sehingga dia akan mewaspadainya dan menjaga diri jangan sampai terjerumus ke dalamnya.
Renungkanlah firman Allah yang terdapat dalam dua ayat dalam surat an Nisa
إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
Yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS an Nisa: 48)
Dalam ayat ini terdapat penjelasan yang sangat jelas bahwa orang yang berjumpa Allah dalam keadaan musyrik maka tidak ada harapan baginya untuk mendapatkan ampunan Allah karena tempat kembalinya adalah neraka dan dia akan kekal di dalamnya. Di dalamnya dia tidak akan mati tidak pula ada keringanan siksa untuknya. Sebagaimana firman Allah,
وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لا يُقْضَى عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِنْ عَذَابِهَا كَذَلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ (٣٦)وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ (٣٧)
Yang artinya, “Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahannam. mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas Setiap orang yang sangat kafir. Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan Kami, keluarkanlah Kami niscaya Kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah Kami kerjakan”. dan Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (QS Fathir: 36-37)
Di antara faktor penyebab timbulnya rasa takut di dalam hati orang yang beriman dengan kemusyrikan adalah merenungkan keadaan orang-orang shalih dan para nabi yang merasa demikian takut terhadap dosa yang sangat besar ini.
Cukuplah dalam kesempatan ini kita renungkan bersama doa pemimpin orang-orang yang bertauhid, sang kekasih Allah, Ibrahim. Beliau adalah seorang yang telah Allah angkat sebagai kekasih-Nya. Beliau hancurkan patung-patung berhala dengan tangannya. Beliau berdakwah mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah dan telah melakukan hal yang luar biasa untuk itu. Renungkanlah doa beliau sebagaimana yang terdapat dalam al Qur’an,
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ (٣٥)رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٣٦)
Yang artinya, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, Sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia. Maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku. Dan barangsiapa yang mendurhakai Aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ibrahim 35-36)
Renungkanlah pemimpin orang-orang yang bertauhid berdoa kepada Allah agar dirinya dan anak keturunannya dijauhkan dari penyembahan terhadap berhala. Artinya beliau meminta agar dirinya dan keturunannya diletakkan di posisi yang jauh dan tidak dekat dengan kemusyrikan dengan bahasa lain tidak terjerumus dalam jaring-jaring dan berbagai sarana pengantar menuju kemusyrikan.
Salah seorang ulama salaf, Ibrahim at Taimi namanya, suatu ketika membaca ayat ini lantas berkomentar, “Siapa berani merasa terjamin selamat dari kemusyrikan setelah Ibrahim?”
Artinya jika Ibrahim sang kekasih Allah saja merasa khawatir melakukan kemusyrikan dan berdoa kepada Allah agar selamat darinya maka bagaimana mungkin orang selainnya berani merasa aman darinya?
Nabi kita setiap pagi berdoa sebanyak tiga kali. Demikian pula setiap sore. Beliau berdoa, “Ya Allah aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kekafiran dan dari kefakiran dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari siksa kubur.”
Diantara doa Nabi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim adalah, “Ya Allah, aku hanya pasrah kepada-Mu, beriman kepada-Mu, bertawakal kepada-Mu dan kembali kepada-Mu. Hanya karena-Mu aku mendebat. Aku memohon perlindungan dengan kemuliaan-Mu yang tiada sesembahan yang pantas disembah melainkan diri-Mu agar engkau tidak menyesatkanku. Engkau adalah zat yang hidup dan tidak mati. Sedangkan jin dan manusia mati.”
Di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, “Ya Allah, aku memohon hidayah dan sikap yang benar kepada-Mu.”
Hadits-hadits seputar hal ini banyak sekali. Bahkan Ummu Salamah mengatakan bahwa mayoritas doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah “Wahai zat yang membolak-balikkan hati palingkanlah hati kami untuk tetap mentaatimu.” Aku yaitu Ummu Salamah bertanya, “Wahai Nabi, apakah hati itu bisa berubah-ubah?” Nabi bersabda, “Memang, semua hati itu diantara dua jemari Allah. Dia membolak-balikkannya sebagaimana yang Dia kehendaki. Jika Dia mau maka Dia akan mengarahkan hati tersebut pada kebenaran dan jika Dia mau maka Dia akan menyesatkan hati tersebut.”
Di antara dalil dalam permasalahan ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al Musnad dan yang lainnya. Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat, “Sesungguhnya hal yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat lantas bertanya tentang apa yang dimaksud dengan syirik kecil. “Riya’”, jawab Nabi.
Para ulama mengatakan jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja mengkhawatirkan para sahabat terjerumus dalam kemusyrikan kecil padahal mereka adalah mereka dalam masalah ketaatan dan tauhid lantas bagaimana dengan orang yang levelnya sangat jauh di bawah para sahabat bahkan tidak ada sepersepuluh dengan para sahabat dalam masalah tauhid dan ibadah?
Terdapat riwayat dalam kitab al Adab al Mufrod yang kualitas sanadnya adalah hasan mengingat banyaknya riwayat pendukung, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh kemusyrikan di tengah-tengah kalian itu lebih samar dari pada langkah semut.”
Salah seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah kemusyrikan adalah mengangkat tandingan untuk Allah padahal Dia adalah sang pencipta?”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya sungguh kemusyrikan di tengah-tengah kalian itu lebih samar dibandingkan dengan langkah semut.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah kutunjukkan kepada kalian suatu kalimat yang jika kalian ucapkan maka Allah akan menghilangkan dari kalian dosa kemusyrikan baik sedikit ataupun banyak.”
“Tentu”, jawab para sahabat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itulah ucapan Ya Allah kami memohon perlindungan kepada-Mu jangan sampai kami menyekutukan-Mu dalam keadaan kami mengetahuinya dan kami memohon ampunan kepada-Mu untuk dosa yang tidak kami ketahui.”
Menjadi kewajiban kita bersama untuk menghafalkan doa ini dan rutin membacanya.
Ya Allah kami memohon perlindungan kepada-Mu jangan sampai kami menyekutukan-Mu dalam keadaan kami mengetahuinya dan kami memohon ampunan kepada-Mu untuk dosa yang tidak kami ketahui.
Di antara hal yang menyebabkan timbulnya rasa khawatir dengan kemusyrikan adalah apa yang Nabi katakan dalam banyak hadits bahwa ada di antara umat beliau akan ada yang kembali menyembah berhala. Hal ini terdapat dalam beberapa hadits diantaranya adalah:
Terdapat dalam Sunan Abu Daud dan yang lainnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi sehingga beberapa kabilah dari umatku bergabung dengan orang-orang musyrik dan beberapa kabilah dari umatku menyembah berhala.”
Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi hingga pantat para wanita dari suku Daud bergoyang di hadapan Dzul Kholashoh.” Dzul Kholashoh adalah nama berhala.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai-sampai jika mereka masuk ke dalam lobang biawak gurun tentu kalian juga akan memasukinya.”
Semua hadits di atas Nabi sampaikan dalam rangka menghendaki kebaikan untuk umatnya dan untuk mengingatkan umatnya dari bahaya dosa yang sangat besar itu dan kejahatan yang sangat ngeri itu.
Semoga Allah melindungi kita semua darinya.
Di antara faktor yang mendorong kita untuk memiliki kekhawatiran dengan kemusyrikan adalah orang musyrik itu dekat dengan neraka. Tidak ada yang menghalangi untuk masuk neraka kecuali karena belum mati saja.
Renungkanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat dalam Sahih Bukhari, “Barang siapa mati dalam keadaan berdoa kepada selain Allah maka pasti akan masuk neraka.”
Para ulama mengatakan bahwa dalam hadits ini terdapat dalil bahwa neraka itu dekat dengan orang musyrik. Tidak ada penghalangnya dengan neraka melainkan karena belum mati.
Semua dalil di atas mendorong orang beriman untuk merasa sangat khawatir dengan kemusyrikan. Kemudian rasa khawatir tersebut menggerakkan hati untuk mempelajari dosa besar tersebut supaya bisa mewaspadainya dan menjaga diri darinya dalam hidup ini.
Oleh karena itu, dalam Sahih Bukhari Hudzaifah bin al Yaman mengatakan, “Para sahabat Nabi suka bertanya kepada Nabi tentang kebaikan sedangkan aku suka bertanya kepada beliau mengenai keburukan karena aku khawatir dengannya.”
Ya Allah, lindungi kami dari kemusyrikan wahai pemilik alam semesta. Ya Allah, lindungi kami dari kemusyrikan wahai zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.
Ya Allah kami memohon perlindungan kepada-Mu jangan sampai kami menyekutukan-Mu dalam keadaan kami mengetahuinya dan kami memohon ampunan kepada-Mu untuk dosa yang tidak kami ketahui.
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu tauhid yang murni dan iman yang membaja.
Ya Allah kami memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyesatkan orang lain ataupun disesatkan oleh orang lain wahai zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu hidayah, takwa, terjaganya kehormatan dan kecukupan rizki
Demikianlah yang aku sampaikan. Aku memohon ampunan untukku dan kalian serta seluruh kaum muslimin dari seluruh dosa.
Mohonlah ampunan kepada-Nya niscaya Dia akan mengampuni kalian sesungguhnya Dia maha pengampun lagi maha penyayang
Khutbah Kedua
Segala puji itu milik Allah. Dialah dzat yang memiliki kebaikan yang sangat besar dan anugrah serta kedermawanan yang sangat luas.
Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tanpa ada sekutu baginya.
Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Semoga Allah menyanjung dan memberi keselamatan untuknya, keluarganya dan semua shahabatnya.
Terdapat banyak dalil dari al Qur’an dan sunah yang menunjukkan bahwa kemusyrikan itu ada dua macam yaitu besar dan kecil. Dua macam kemusyrikan ini berbeda pengertian dan konsekuensinya.
Pengertian syirik besar adalah menyamakan selain Allah dengan Allah baik dalam rububiyyah, nama dan sifat ataupun dalam uluhiyyah.
Siapa saja yang menyamakan selain Allah dengan Allah dalam salah satu hak khusus Allah maka dia telah menyekutukan Allah dengan syirik besar yang mengeluarkan palakunya dari agama Islam.
Sedangkan syirik kecil adalah segala perbuatan yang dicap sebagai kemusyrikan oleh dalil, akan tetapi belum sampai derajat syirik besar. Contohnya adalah bersumpah dengan Allah, ucapan ’sebagaimana kehendak Allah dan kehendakmu’, ’seandainya tidak demikian tentu yang terjadi adalah demikian dan demikian’ dan ucapan-ucapan semisal yang mengandung kemusyrikan akan tetapi orang yang mengucapkannya tidak memaksudkannya.
Sedangkan konsekuensi hukum dari dua macam kemusyrikan tersebut di Akherat tentu berbeda. Pelaku syirik besar itu kekal di dalam neraka selamanya, tidak mati tidak pula mendapatkan keringanan siksa.
Sedangkan syirik kecil dampaknya tidak sampai seperti itu. Meski pada asalnya syirik kecil itu dosa besar yang paling besar sebagaimana perkataan sahabat, Abdullah bin Mas’ud. Beliau berkata, “Sungguh jika aku bersumpah dengan menyebut nama Allah sedangkan isi sumpahku adalah dusta itu lebih aku sukai dari pada aku bersumpah dengan selain nama Allah meskipun isi sumpahku adalah benar.”
Bersumpah dengan selain nama Allah meski isi sumpahnya benar adalah kemusyrikan. Sedangkan bersumpah dengan nama Allah sedangkan isinya adalah dusta adalah melakukan dosa besar yaitu dusta. Dosa besar tidak bisa dibandingkan dengan kemusyrikan. Ini menunjukkan kepahaman para sahabat dengan agama ini.
Permasalahan kemusyrikan dan mengetahui bentuk-bentuknya adalah permasalahan yang sangat penting untuk diperhatikan mengingat banyak orang yang tidak mengetahui perkara agung ini.
Banyak orang yang melakukan berbagai amalan dan perkara yang merupakan kemusyrikan namun mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah kemusyrikan. Bahkan sebagian orang tertipu dengan nama dan label sehingga tercegah dari ibadah yang murni untuk Allah akhirnya melakukan berbagai hal yang haram bahkan berbagai perbuatan kemusyrikan. Semoga Allah melindungi kita.
Kita memohon kepada Allah agar memahamkan kita semua dengan agama-Nya dan memberi taufik kepada kita semua untuk mengikuti sunah Nabi-Nya serta memberi hidayah kepada kita semua agar menita jalan-Nya yang lurus.
Hendaknya kalian mengucapkan sholawat dan salam untuk pemimpin orang-orang yang bertauhid dan teladan para sahabat, Muhammad bin Abdillah sebagaimana yang Allah perintahkan dalam kitab-Nya,
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Yang artinya, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS al Ahzab: 56)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang bershalawat untukku sekali maka Allah akan bershalawat untuknya sebanyak sepuluh kali.”
Ya Allah, berikanlah shalawat-Mu untuk Muhammad dan untuk keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi shalawat untuk Ibrahim dan untuk keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau itu maha terpuji dan maha agung. Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi berkah untuk Ibrahim dan untuk keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau itu maha terpuji dan maha agung.
Ya Allah berikan ridho-Mu untuk empat khulafaur rasyidin yang mendapatkan hidayah yaitu Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali. Demikian pula ya Allah berikanlah ridho-Mu untuk semua shahabat dan tabiin serta semua orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat nanti. Demikian juga berikanlah ridho-Mu untuk kami dengan anugrah, kemurahan dan kebaikan-Mu, wahai zat yang maha pemurah.
Ya Allah muliakanlah Islam dan kaum muslimin dan hinakanlah kemusyrikan dan orang-orang musyrik serta hancurkanlah semua musuh-musuh agama.
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami para mujahid yang berjihad di jalan-Mu di semua tempat.
Ya Allah, jadikanlah diri-Mu sebagai penolong, penguat, pembantu dan penjaga mereka.

Ya Allah bereskanlah para musuh agama karena sesunguhnya mereka tidak akan mampu mengalahka-Mu.
Ya Allah, kami jadikan diri-Mu di leher-leher mereka dan kami memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan mereka.

Ya Allah, berikanlah rasa aman untuk kami di negeri kami sendiri dan perbaikilah para penguasa dan pemimpin kami.
Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami adalah orang yang merasa takut dan bertakwa kepada-Mu serta mengikuti ridho-Mu wahai pemilik alam semesta.
Ya Allah bimbinglah penguasa kami untuk meniti hidayahMu dan jadikanlah amalnya adalah amal yang kau ridhoi.
Ya Allah, berikanlah kepada jiwa kami ketakwaan. Sucikanlah jiwa kami. Engkau adalah sebaik-baik yang mensucikan jiwa karena Engkau adalah zat yang mengatur jiwa manusia.
Ya Allah ampunilah dosa kami, dosa orang tua kami dan dosa seluruh kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan dan seluruh orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan, baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal dunia.
Ya Allah, ampunilah seluruh dosa kami baik yang kecil apalagi yang besar, yang dahulu ataupun belakangan, yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan.
Ya Allah sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu. Sungguh Engkau adalah maha pengampun. Oleh karena itu turunkanlah hujan yang deras kepada kami.
Ya Allah turunkan hujan untuk kami, turunkan hujan untuk kami, turunkan hujan untuk kami.
Ya turunkanlah hujan yang manfaat, berlimpah dan penuh kebaikan kepada kami. Janganlah Kau turunkan hujan yang membahayakan kami baik di masa sekarang ataupun di masa yang akan datang.
Ya Allah suburkan hati kami dengan iman dan suburkanlah negeri kami dengan hujan
Ya Allah, kasih sayang-Mu yang kami harapkan maka janganlah Kau pasrahkan kami melainkan kepada diri-Mu.
Ya Allah, jangan Kau pasrahkan diri kami kepada kami sendiri meski hanya sekejap mata.
Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Engkau.
Seruan kami yang terakhir adalah ucapan alhamdu lillahi rabbil ‘alamin.

Moga Allah memuji, memberi keselamatan, keberkahan dan nikmat untuk hamba Allah dan utusanNya yaitu nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh shahabatnya.


Selengkapnya →

Sabtu, 26 Februari 2011

SUMBER HUKUM ISLAM, HUKUM TAKLIFI, DAN HUKUM WAD`I

,

 MAKALAH AGAMA

DI SUSUN OLEH

ARUM ADITYA .G
DIAN APRIYANI
HADA SYAHPUTRA
TESA PUTERI .P

TEMA

SUMBER HUKUM ISLAM, HUKUM TAKLIFI, DAN HUKUM WAD`I

KELAS XC
TAHUN 2009/2010



A.  SUMBER HUKUM ISLAM
1.       Pengertian Sumber Hukum Islam
Sumber hukum islam adalah segala sesuatu yang dijadikan dasar acuan atau pedoman ajaran islam yang bersifat mengikat dan apabila dilanggar menimbulkan sanksi yang tegas dan nyata.

Menurut para ulama fikih bahwa sumber utama hukum islam adalah al-Qur`an dan Hadis. Selain itu ada sumber hukum lain selain Al-Qur`an dan Hadis yaitu ijtihad.

2.       Sumber-Sumber Hukum Islam
1.       Al-Qur`an
a)       Pengertian Al-Qur`an
Al-Qur`an yaitu kitab suci umat Islam yang berisi firman-firman Allah SWT yang diwahyukan kepada rasul / nabi terakhir Nabi Muhammad SAW, yang membacanya adalah ibadah.
b)       Kedudukan Al-Qur`an
Al-Qur`an menempati posisi sebagai sumber pertama dan utama dari seluruh ajaran Islam, baik yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan sesamanya, dan hubungan manusia dengan alam.
            Firman Allah SWT :
إِلَيْكَ أَنزَلْنَا إِنَّا
خَصِيمًا لِّلْخَآئِنِينَ تَكُن وَلاَ اللّهُ أَرَاكَ بِمَا النَّاسِ بَيْنَ لِتَحْكُمَ بِالْحَقِّ الْكِتَابَ

Artinya  : sungguh, Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad),  membawa  kebenaran, agar engkau mengadili antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, dan janganlah engkau menjadi penantang (orang-orang yang tidak bersalah), karena (membela orang-orang yang berkhianat.”(Q.S. An-Nisa : 105).


c)       Fungsi Al-Qur`an
*      Sebagai pedoman hidup manusia, firman Allah SWT :
   …الْكِتَابِ مِنَ يَدَيْهِ بَيْنَ لِّمَا مُصَدِّقًا بِالْحَقِّ كِتَابَ إِلَيْكَ وَأَنزَلْنَا
Artinya        : “Dan kami telah menurunkan kitab Al-Qur`an kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya” (Q.S Al-Maidah : 48)
*      Sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, Firman Allah SWT :

لِّلْمُتَّقِينَ هُدًى فِيهِ رَيْبَ لاَ الْكِتَابُ ذَلِكَ

Artinya        : “Kitab (Al-Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Q.S Al-Baqarah :2)

*      Sebagai mukjizat atas kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW, Firman Allah SWT :

 وَادْعُو مِّثْلِهِ مِّن بِسُورَةٍ فَأْتُواْ عَبْدِنَا  عَلَى نَزَّلْنَا  مِّمَّا رَيْبٍ فِي كُنتُمْ وَإِن
صَادِقِينَ كُنْتُمْ إِنْ اللّهِ دُونِ مِّن ءكُم اْ شُهَدَا

Artinya        : “ Dan jika kamu meraguka (al-Qur`an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”(Q.S al-Baqarah : 23)

*      Sebagai sumber hidayah dan syariah. Firman Allah
 

Artinya  : “ ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari tuhanmu dan janganlah kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.” (Q.S Al-A`raf : 3).

*      Sebagai pembeda antara yang hak dan yang batil. Firman Allah :

الْهُدَى مِنَ وَبَيِّنَاتٍ لِلنَّاسِ هُدًى الْقُرْآَنُ فِيهِ أُنْزِلَ الَّذِي رَمَضَانَ شَهْرُ وَالْفُرْقَانِ

Artinya  : “ Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Qur`an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang benar dan batil). (Q.S Al-Baqarah : 185 )

2.       Hadis
a.       Pengertian Hadis
Hadis berasal dari bahasa Arab yang artinya baru, tidak lama, ucapan, pembicaraan dan cerita.
      Hadis adalah segala tingkah laku Nabi Muhammad SAW, baik berupa ucapan, perbuatan, maupun ketetapannya.

Menurut definisi tersebut Hadis dapat dibagi menjadi 3 yaitu         :
*     Sunah Qauliyah, yaitu hadis yang didasarkan atas segala perkataan dan ucapan Nabi Muhammad SAW.
*     Hadis / sunah Fi`ilyah, yaitu  hadis / sunah yang didasarkan atas perilaku dan perbuatan Nabi Muhammad.
*     Hadis / sunah Takririyah, yaitu ketetapan Nabi Muhammad SAW, berupa sikap diam beliau dalam suatu permasalahan.


b.       Kedudukan Hadis
Hadis merupakan sumber hukum Islam yang kedua setelah Al-Qur`an.sebagai sumber hukum yang kedua hadis menjelaskan hukum-hukum yang belum ada dalam Al-Qur`an, karena hokum Al-Qur`an masih bersifat mujmal (global).

c.       Fungsi Hadis
☺   Sebagai penguat / mempertegas hukum yang sudah ada dalam al-Qur`an.
☺   Memberikan rincian dan penjelasan ayat-ayat Al-Qur`an yang masih bersifat umum.
Dalam hal ini hadis berfungsi sebagai berikut :
*      Bayanul Jumli
Yaitu memberi penjelasan terhadap al-Qur`an yang baru diterangkan secara garis besar  atau merinci dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur`an. Contoh : “dirikanlah shalat sebelum matahari tergelincir sampai gelap malam dan dirikanlah pula shalat subuh.
*      Taqiyidul mut-laqi
Yaitu member batas terhadap hal-hal yang belum ada batasnya. Misalnya : hadis yang menerangkan tentang hukum potong tangan bagi seorang pencuri.
*      Takhsisul `ammi
Yaitu mengkhususkan hal-hal yang masih bersifat umum.
☺   Menetapkan hukum atau aturan–aturan yang tidak dapat didapati dalam al-Qur`an. Misalnya : cara menyucikan  bejana yang dijilat anjing, dengan menyucikan sebanyak tujuh kali, salah satunya dicampur dengan tanah.

d.       Macam-Macam Hadis
Menurut dari segi rawi, dapat dibagi menjadi 3 :
      i.            Hadis Mutawatir
Yaitu hadis yang dilakukan oleh sekelompok orang (rawi) yang tidak mungkin melakukan sekutu untuk melakukan kebohongan.


     ii.            Hadis Masyhur
Yaitu hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW oleh seorang atau dua orang atau sekelompok sahabat yang tidak dapat mencapai derajat atau tingkatan mutawatir.
   iii.            Hadis Ahad
Yaitu hadis yang diriwatkan oleh sekelompok orang yang tidak sampai pada derajat mutwatir.

Menurut dari segi sanadnya, dapat dibagi menjadi 3 :
1)       Hadis Sahih (sah, dapat digunakan sebagai landasan hukum)
☺   Hadis yang sanadnya muttasil (bersambung, tidak terputus)
☺   Rawinya (orang yang meriwayatkan) taat beragama.
☺   Perawinya kuat hafalan (tidak pelupa)
☺   Tidak bertentangan dengan al-Qur`an dan tidak terdapat cacat di dalamnya.
2)       Hadis Hasan (baik, dapat sebagai landasan hukum)
☺   Sanadnya muttasil (bersambung, tidak terputus)
☺   Rawinya (orang yang meriwayatkan) taat beragama.
☺   Perawinya agak kuat
☺   Tidak bertentangan dengan al-Qur`an dan tidak terdapat cacat di dalamnya.
3)       Hadis Daif (lemah, tidak boleh dijadikan landasan hukum)
☺   Yaitu hadis yang tidak memenuhi persyaratan hadis hasan apalagi hadis sahih.

3.       Ijtihad
a.       Pengertian Ijtihad
Kata Ijtihad dari lafal ijtahada-yajtahidu,ijtihadan yang berarti brsungguh atau bekerja keras.
Jadi Ijtihad adalah berusaha dengan sungguh-sungguh untukmemecahkan suatu masalah yang tidak ada ketetapannya, baik dalam al-Qur`an maupun hadis dengan menggunakan akal pikiran yang sehat dan jernih, serta berpedoman kepada cara-cara menetapkan hukum yang telah ditentukan.
            Muslim yang melakukan ijtihad disebut mujtahid.

Syarat-syarat menjadi mujtahid ialah       :
*      Memahami al-qur`an dan asbabul nuzul-nya (sebab-sebab turunnya ayat-ayat al-qur`an),serta ayat-ayat nasikh (yang menghapus hukum) dan mansukh (yang dihapus)
*      Memahami hadis dan dan sebab-sebab wurudnya (munculnya hadis-hadis), serta memahami hadis-hadis nasikh dan mansukh
*      Mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang bahasa arab
*      Mengetahui tempat-tempat ijmak
*      Mengetahui usul fikih
*      Mengetahui maksud-maksud syariat
*      Memahami masyarakat dan adat istiadatnya
*      Bersifat adil dan bertakwa
*      Mendalami ilmu ushuludin (ilmu tentang akidah islam)
*      Memahami ilmu mantik (logika)
*      Mengetahui cabang-cabang fikih.

b.       Kedudukan
Ijtihad dijadikan sumber hukum Islam setelah yang ketiga setelah al-qur`an dan al-hadis.

c.       Bentuk-bentuk Ijtihad
*      Ijmak
Yaitu kesepakatan para ulama mujtahid dari kaum muslimin di masa lalu setelah Rasulullah SAW wafat dalam menetapkan hukum suatu permasalahan yang muncul pada waktu itu
*      Qiyas
Yaitu menyamakan status hukum suatu permasalahan yang tidak ada nas atau dalilnya dengan permasalahan lain yang ada status hukumnya, karena ada persamaan illat (alasannya)
*      Masalah Mursalah
Yaitu memutuskan status hukum suatu perkara berdasarkan pertimbangan kemaslahatan bersama (kebaikan bersama) atau untuk menghindari suatu kerugia yang lebih besar.

*      Istihsan / Istislah
Yaitu menetapkan hukum suatu perbuatan yang tidak dijelaskan secara konkret dalam al-qur`an dan hadis yang didasarkan atas kepentingan umum atau kemaslahatan umum atau untuk kepentingan keadilan.
*      Istishab
Yaitu meneruskan berlakunya suatu hukum yang telah ada dan telah ditetapkan karena suatu dalil, sampai ada dalil lain yang mengubah kedudukan dari hukum tersebut.
*      Istidlal
Yaitu menetapkan hukum suatu perbuatan yang tidak disebutkan secara konkret dalam al-qur`an dan hadis dengan didasarkan karena telah menjadi adat istiadat atau kebiasaan masyarakat setempat.
*      Al Urt
Yaitu urusan yang disepakati oleh segolongan manusia dalam perkembangan hidupnya
*      Zara`I atau wasilah
Yaitu pekerjaan-pekerjaan yang menjadi jalan untuk mencapai masalah atau untuk menghilangkan mudarat.
Dilihat dari segi pelakunya, ijtihad dibagi menjadi dua       :
☺   Ijtihad jama`I yaitu ijtihad yang dilakukan secara berkelompok
☺   Ijtihad fardi yaitu ijtihad yang dilakukan secara perorangan

d.       Fungsi ijtihad
Ialah untuk menetapkan hukum sesuatu, yang tidak ditemukan dalil hukumnya secara pasti di dalam al-qur`an dan hadis

B.    PEMBAGIAN HUKUM DALAM ISLAM
1.       HUKUM TAKLIFI
Yaitu hukum yang dibebankan kepada orang islam yang sudah dewasa dan berakal sehat.

Hukum ini dibagi menjadi lima      :
*      Wajib
Yaitu ketentuan agama yang harus dikerjakan, bila ditinggalkan mendapat dosa.
*      Sunah Mandub
Yaitu perkara-perkara yang dianjurkan untuk dilaksanakan, apabila dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa
*      Haram
Yaitu ketentuan larangan agama yang tidak boleh dikerjakan, jika melaksanakannya akan berdosa
*      Makruh
Yaitu ketentuan larangan yang lebih baik ditinggalkan daripada dilakukan
*      Mubah
Yaitu perbuatan yang tidak ada ganjaran atau siksaan bagi yang mengerjakannya atau tidak mengerjakannya.

*     Kedudukan dan Fungsi
Kedudukan dan fungsi hukumm taklifi menempati posisi yang utama dalam ajaran islam, karena hukum taklifi membahas sumber hukum islam yang utama yaitu al-qur`an dan hadis.
x        Macam-macam hukum taklifi     :
a.       Al-Ijab yaitu tuntutan secara pasti dari syariat untuk dilaksanakan, tidak boleh (dilarang) ditinggalkan, karena orang yang meninggalkannya dikenai hukuman
Bentuk hukuman dari Al-Ijab ialah wajib ( fardhu), yaitu perbuatan yang apabila dikerjakan, pelakunya mendapat pahala, tetapi apabila ditinggalkan pelakunya dianggap berdosa dan akan mendapat hukuman.
Perbuatan fardhu ditinjau dari segi orang yang melakukannya, dapat dibagi menjadi 2:
*      Fardhu `ain, yaitu perbuatan yang harus dikerjakan oleh setiap mukalaf.
*      Fardhu Kifayah, yaitu perbuatan yang harus dilakukan oleh salah seorang anggota masyarakat.
b.       An-nadb yaitu tuntutan dari syariat unuk melaksanakan suatu perbuatan, yang apabila dikerjakan pelakunya akan mendapat pahala, tetapi apabila ditinggalkan tidak mendapat siksa .
Perbuatan sunah dibagi 2:
*      Sunnah `ain, yaitu perbuatan yang dianjurkan untuk dikerjakan oleh setiap individu.
*      Sunnah Kifayah, yaitu perbuatan yang dianjurkan untuk dikerjakan oleh seorang atau beberapa orang dari golongan masyarakat

c.       Al-Karahah yaitu sesuatu yang dituntut syar`I kepada mukalaf untuk meninggalkannya dalam bentuk tuntutan yang tidak pasti.
Bentuk hukum dari Al-Karahah disebut makruh, yaitu orang yang mengerjakan perbuatan makruh dianggap tidak berdosa, dan yang meninggalkannya mendapat pujian dan pahala.

d.       At-Tahrim yaitu tuntutan syar`I untuk tidak mengerjakan suatu perbuatan dengan tuntutan yang pasti.
Bentuk hukum dari At-Tahrim ialah haram, yaitu perbuatan yang apabila dikerjakan dianggap berdosa, tetapi apabila ditinggalkan pelakunya kan mendapat pahala.

e.       Al-Ibahah yaitu firman Allah SWT yang mengandung pilihan untuk melakukan suatu perbuatan atau meninggalkannya.
Bentuk hukum dari al-Ibahah ialah mubah yaitu perbuatan yang boleh dikerjakan dan boleh pula ditinggalkan. Dikerjakan atau ditinggalkan pelakunya tidak akn mendapat pahala dan dosa.

2.       Hukum Wad`i
Yaitu perintah Allah swt, bahwa terjadinya sesuatu merupakan sebab, syarat atau mani` (penghalang) bagi adanya sesuatu (hukum)


*      Sebab
Yaitu sifat yang nyata dapat diukur yang dijelaskan oleh nas (al-qur`an dan hadis) bahwa kebenarannya menjadi sebab adanya hukum.
*      Syarat
Yaitu sesuatu yang berada di luar hukum syarak tetapi keberadaan hukum syarak tergantung kepadanya. Jika syarat tidak ada hukum pun tidak ada.
*      Mani` (penghalang)
Yaitu sesuatu yang keberadaannya menyebabkan tidak adanya hukum atau tidak adanya sebab bagi hukum.
*      Azimah dan Rukhsah
Azimah yaitu peraturan Allah SWT yang asli san tersurat pada Nas (al-qur`an dan hadis)
Rukhsah yaitu ketentuan yang disyariatkan oleh Allah SWT sebagai keringanan yang diberikan kepada mukalaf dalam keadaan-keadaan khusus.
Contoh : bagi orang yang dalam perjalanan jauh diber keringan untuk mengerjakan salat zuhur diwaktu Ashar dan shalat maghrib di waktu Isya.


Dilihat dari cara pengambilannya hukum dibagi menjadi 4 yaitu :
*      Hukum yang diambil dari nas yang tegas (adanya dan maksudnya menunjukkan kepada hukum itu)
*      Hukum yang diambil dari nas yang tidak yakin maksudnya terhadap hukum-hukum itu.
*      Hukum yang tidak ada nas, baik secara qath`I (pasti) maupun zanni (dugaan) tetapi pada suatu masa telah sepakat (ijmak) mujtahidin atas hukum-hukumnya.
*      Hukum yang tidak ada na, baik qath`I ataupun zanni dan tidak ada kesepakatan mujtahidin atas hukum itu.



*     Penerapan Hukum Taklifi dan Hukum Wad`I dalam Kehidupan Sehari-hari







                 





Selengkapnya →